Administrator 05 Feb 2024 116x Share

Wilayah yang saat ini menjadi Kelurahan Blitar dan sekitarnya adalah pusat pemerintahan Blitar pada masa dahulu. Bahkan bisa dikatakan inilah desa yang menjadi cikal bakal Blitar Raya. Di Kelurahan inilah tempat peristirahatan terakhir Adipati Aryo Blitar.

Pada tahun 1848 Gunung Kelud meletus menghancurkan sebagian wilayah Blitar. Termasuk kediaman Kanjeng Bupati di desa Blitar dan Masjid yang didirikan Penghulu I Blitar. Hal ini menjadikan pusat pemerintahan lama menjadi kurang layak dan akhirnya dipindahkanlah ibukota kabupaten di tempat yang baru hingga sekarang.[1]

Karena lahar Kelud menghancurkan alun-alun lama yang berlokasi di sekitar Pakunden pada 1848, alun-alun dipindahkan 1,5 kilometer ke arah timur ke lokasi baru yang lebih aman dari bencana. Alun-alun baru dibangun seluas 150 x 150 meter dengan rumah dinas bupati di sisi utara dan Masjid di sisi barat. Rumah asisten residen dibangun di ujung timur jalan berdekatan dengan alun-alun. Meskipun agak jauh, rumah tersebut tetap menghadap ke alun-alun.[2]

Lokasi baru yang menjadi pusat pemerintahan ini berada di wilayah yang disebut Kepanjen. Pada tahun 1880 desa Kepanjen dipecah menjadi desa Kepanjen Lor dan Kepanjen Kidul. Dan pada tahun 1885 melalui Staads Blaad No 107 Tanggal 4 Juni 1885 Desa Kauman dikukuhkan sebagai Ibukota Kabupaten. Saat itu ada empat desa yang menjadi pusat pemerintahan Asisten Residen Blitar yaitu: Kepanjen Lor, Kepanjen Kidul, Kauman dan Pecinan (De Chineeschewijk).[3] 

 

Cikal Bakal Kota Blitar

Pada tahun 1906, pemerintah colonial Belanda mengeluarkan sebuah Staatsblad van Nederlandche Indie Tahun 1906 Nomor 150 tanggal 1 April 1906, yang isinya adalah menetapkan pembentukan Gemeentee Blitar. Moment inilah yang kemudian dikukuhkan sebagai hari lahirnya Kota Blitar.[4]

Saat menjadi Geemente Blitar pada 1906 ini, wilayah yang menjadi pusat pemerintahan Asisten Residen Blitar yaitu: Kepanjen Lor, Kepanjen Kidul, Kauman dan Pecinan telah dikembangkan lebih luas lagi. Secara berangsur-angsur dikembangkan ke arah utara hingga Jurang Sembot dan Bendo. Ke selatan: Kampung Baru, Bamban (Karangsari) dan Plosokerep. Ke timur: Gebang, Sidorejo, Bendogerit dan Karanglo. Ke barat: Dawuhan dan Sudimoro (Dimoro). Total luas Gementee Blitar saat itu 6,5 km2.[5]

Dalam perkembangannya, Gemeente Blitar ini sempat berubah-ubah nama atau sebutan sampai akhirnya menjadi Kota Blitar pada saat ini. Pada tahun 1928 menjadi Kota Karesidenan dengan nama “Residensi Blitar”; pada zaman Jepang tahun 1942 berdasarkan Osomu Seerai dengan nama “Blitar Shi”; saat Indonesia merdeka pada tahun 1945 dengan nama “Kota Blitar”; berdasarkan undang-undang nomor 17 tahun 1950 nama Blitar dibentuk sebagai derah Kota Kecil; berdasar undang-undang nomor 1 tahun 1957 dengan nama “Kotapraja Blitar”; berdasar undang-undang nomor 18 tahun 1965 ditetapkan dengan nama “Kotamadya Blitar”; dan berdasar undang-undang nomor 22 tahun 1999 nama Kotamadya Blitar disesuaikan dan diganti dengan nama “KOTA BLITAR”.[6] 

Saat masih menjadi Kotamadya Blitar, ada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 1982 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Blitar. Untuk terwujudnya tertib pemerintahan serta pembinaan wilayah, maka wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Blitar dibagi dalam 3 (tiga) kecamatan, yaitu: Kepanjenkidul, Sukorejo dan Sanan Wetan. 

Selain itu juga terjadi perubahan batas-batas wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Blitar dengan memasukkan sebagian dari wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Blitar yaitu:

  1. Sebagian wilayah Kecamatan Garum, yaitu Kelurahan Gedong;
  2. Sebagian wilayah Kecamatan Nglegok, yang meliputi:
    1. Kelurahan Ngadirejo;
    2. Kelurahan Tanggung;
  3. Sebagian wilayah Kecamatan Sanan Kulon, yang meliputi:
    1. Kelurahan Pekunden;
    2. Kelurahan Blitar;
    3. Kelurahan Tlumpu;
    4. Kelurahan Rembang.
  4. Sebagian wilayah Kecamatan Kanigoro, yaitu Kelurahan Klampok.[7]

Sejak itu Kota Blitar memiliki tiga kecamatan dan dua puluh Kelurahan. Dan pada tahun 2005, pemerintah Kota Blitar membentuk kelurahan Tanjungsari di wilayah Kecamatan Sukorejo yang berasal dari sebagian wilayah Kelurahan Pakunden.[8] Inilah yang ada sampai saat ini, Kota Blitar terdiri dari 3 kecamatan yang masing-masing kecamatan terdiri dari tujuh kelurahan, sehingga totalnya dua puluh satu Kelurahan di Kota Blitar.

 

The Founder Land of Blitar City

Kelurahan/Desa Blitar memang merupakan cikal bakal Blitar Raya yang kini meliputi Kota Blitar dan Kabupaten Blitar. Namun Kota Blitar embrionya diawali dengan berlangsungnya kepindahan pusat pemerintah Kabupaten Blitar dari Desa Blitar ke Desa Kepanjen akibat meletusnya Gunung Kelud di tahun 1848 yang telah meluluhlantakkan pusat pemerintahan lama.[9] Kelurahan Blitar sendiri baru masuk menjadi bagian Kota Blitar pada tahun 1982 saat ada pemekaran Kotamadya Daerah Tingkat II Blitar. Sebelumnya Kelurahan/Desa Blitar masuk wilayah Kecamatan Sanan Kulon Kabupaten Daerah Tingkat II Blitar.

Sampai saat ini, pusat pemerintah Kota dan Kabupaten Blitar berada di wilayah yang dulu disebut Desa Kepanjen. Kantor Pemerintah Kota Blitar kini berada di Wilayah Kelurahan Kepanjenkidul, sedangkan Pendopo Ronggo Hadinegoro yang merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Blitar dan sekaligus sebagai rumah dinas Bupati Blitar berada di wilayah Kelurahan Kepanjen Lor di utara Alun-Alun, sebelum akhirnya ibu kota Kabupaten Blitar pindah ke Kanigoro pada tahun 2010.[10]

Selain kantor pemerintahan, banyak bangunan penting di wilayah Kepanjen ini, yang dibangun sejak zaman Belanda dulu. Misalnya saja stasiun kereta api yang ada di Kelurahan Kepanjenkidul. Pembangunan jalan kereta api menuju Blitar dimulai dari arah barat. Jalur Kertosono-Kediri (29 Km) berhasil dibangun dan diresmikan pada 13 Agustus 1881, dilanjutkan dengan jalur Kediri-Tulungagung (30 Km) diresmikan pada 2 Juni 1883. Setahun kemudian dilanjutkan pembangunan jalur Tulungagung-Blitar (34 Km) diresmikan 16 Juni 1884. Sejak saat itu kereta api dapat menghubungkan Blitar-Surabaya. Selanjutnya, ke arah timur dibangun jaringan kereta api dari Blitar menuju Malang pada 30 September 1893.[11]

Tak jauh dari stasiun kereta api, masih di wilayah Kepanjenkidul ada Kantor Pos. Hal ini bermula dari industri jasa komunikasi meliputi pos, telegraf, telepon, dan pers.  Pada 1881 telah dioperasikan layanan pos di Blitar, dilakukan hubungan pos dengan Kantor Pos Nganjuk yang dibentuk berdasarkan Staatsblad No 43/1881, 31 Januari 1881. Layanan yang dilakukan sangat terbatas, dan pada 1882 diperkuat dengan layanan pos kuda yang menghubungkan Nganjuk-Kediri-Blitar yang dibentuk berdasarkan Staatsblad No. 174/1882, 15 Juni 1882.[12]

Dalam bidang kesehatan juga dibangun dua buah klinik yang menjadi pusat layanan kesehatan, yaitu sebuah klinik untuk masyarakat bumiputera, dan sebuah klinik untuk orang-orang dan pekerja Eropa. Bangunan klinik untuk orang-orang Eropa sekarang menjadi RS Budi Rahayu Blitar yang berada di Jl. Ahmad Yani. Kelurahan Kepanjenkidul. [13]

Dalam bidang Pendidikan, Gemeente Blitar dikenal sebagai kota Pendidikan pada zaman Hindia Belanda. Di Blitar terdapat sekolah-sekolah yang lengkap antara lain OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren), MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), HIK (Hollandsch Inlandsche Kweekschool), dan Normal School (Sekolah Pendidikan Guru) yang menampung pelajar-pelajar tidak hanya dari Gemeente Blitar saja, tetapi juga menampung dari daerah Kabupaten Blitar, Tulungagung dan Kediri.[14]

Untuk mendukung berjalannya Gemeente Blitar, pemerintah Hindia Belanda juga membuat kantor-kantor pemerintahan, gardu induk listrik, gereja, kebon raja (taman kota), pembangunan jalan dan irigasi, pasar, pabrik, hotel dan lainnya. 

Demikianlah sekelumit sejarah cikal bakal Kota Blitar yang dimulai dari sebuah wilayah bernama Kepanjen.

 


 

[1] Den B. I Mardiono. 2018. Napak Tilas Jejak Kaki Wong Blitar dari Masa Ke Masa. Blitar: Blitar Heritage Society. Hlm: 100 & 111.

[2] Olivier Johannes Raap. 2015. Kota di Djawa Tempo Doeloe. Jakarta; KPG. Hlm: 18

[3] Den B. I Mardiono. Ibid. Hlm: 118 & 139.

[4] Liga Alam. 2010. Berjuang dan Membangun Bersama Masyarakat: Biografi dan Gagasan Pembangunan Ir. H. Endro Hermono dalam Merajut Masa Depan Kota Blitar. Malang: Indo Press. Hlm: 6. 

[5] Den B. I Mardiono. Ibid. Hlm: 139

[6] Pemerintah Kota Blitar. Tanpa tahun. Profil Kota Blitar. Hlm: 40

[7] Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 1982

[8] Peraturan Daerah Kota Blitar Nomor 4 Tahun 2005 tentang Pembentukan Kelurahan Tanjungsari.

[9] Den B. I Mardiono. Ibid. Hlm: 135

[10] https://www.blitarkab.go.id/2017/01/07/menata-ibukota-dari-titik-0-km-kanigoro/

[11] Nurhadi Sasmita. 2022. Perkebunan Dan Transportasi Eksploitasi: Pembangunan Jaringan Kereta Api Menuju Blitar, 1884 – 1942. Jurnal Historia: Volume 5 Nomor 1, Juli 2022.

[12] Nurhadi Sasmita. 2011. Industrialisasi di Gemeente Blitar, 1900-1942. Jurnal Sejarah Citra Lekha, Vol. XVI, No. 2 Agustus 2011: 1-18

[13] Ibid

[14] Hartiwi. 1987. Pertumbuhan Kota Blitar Setelah Tahun 1965. Skripsi Universitas Sebelas Maret Surakarta. Hlm: 53

 

Berita Populer

Karnaval Kecamatan Kepanjenkidul 2023: Pe..

by Administrator | 28 Aug 2023

Santoso - Tjutjuk Sunario Resmi Dilantik ..

by Administrator | 26 Feb 2021

DPUPR Kota Blitar Manfaatkan Embung dan K..

by Administrator | 09 Feb 2021

Musyawarah Kecamatan untuk Verifikasi Dat..

by Administrator | 06 Dec 2022

KPU Kota Blitar Gelar Rekapitulasi dan Pe..

by Administrator | 15 Dec 2020

Sosialisasi Penggunaan Aplikasi SIPAK ONL..

by Administrator | 31 Mar 2022